Demensia (kepikunan) Alzheimer adalah salah satu bentuk pikun akibat kematian (degenerasi) sel-sel di bagian otak lobus temporal dan parietal. Kata Alzheimer diperoleh dari nama Dr. Alois Alzheimer yang pada tahun 1906 menguraikan gambaran penyakit yang diderita seorang wanita yang mengalami demensia progresif secara kronik.
Gejala-gejala awalnya nampak pada kemerosotan daya ingat, fungsi intelektual dan berlanjut pada fungsi mental lainnya, serta fungsi psiko-sosial sehingga akan mengakibatkan orang penyandang pikun Alzheimer menjadi tidak berdaya dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Kondisi demensia atau pikun sering ditemui pada mereka dan kelompok usia lanjut, dimulai pada usia 50 tahun dan makin nyata dan sering dengan meningkatnya usia.
Organisasi Alzheimer Desease International dengan mendasarkan laporan WHO regional atas dasar kelompok umur, membuat estimasi prevalensi tentang demensia untuk Indonesia adalah 1% untuk kelompok 60-64 tahun, 1,7% untuk kelompok usia 65-69 tahun, 3,4% untuk usia 70-74 tahun, 5,7% untuk usia 75-79 tahun, dan 10,8% untuk usia 80-84 tahun dan 17,6% untuk kelompok usia 85 tahun ke atas. Dilaporkan juga bahwa 60% penyandang demensia berada di negara berkembang pada tahun 2001, dan akan meningkat menjadi 71% di tahun 2040.
Untuk Indonesia perlu mewaspadai kecenderungan fakta dalam laporan WHO tersebut dari sekarang mengingat pada masa tersebut populasi lansia Indonesia akan menduduki peringkat keempat setelah India. Bisa dibayangkan kondisi demensia/kepikunan tersebut sangat menakutkan bagi masyarakat lansia beserta keluarganya.
Siapa saja yang bisa terkena demensia Alzheimer ?
Waspadailah bila Anda memiliki riwayat berikut yang dapat meningkatkan risiko terkena kepikunan/demensia Alzheimer :
1. Latar belakang keluarga yang mengalami demensia Alzheimer (faktor turunan)
2. Latar belakang keluarga yang menyandang penyakit Parkinson
3. Latar belakang keluarga penyandang sindroma down
4. Cidera otak yang berat
5. Tingkat pendidikan rendah
6. Penyakit kelenjar gondok (tiroid)
7. Latar belakang diabetes melitus
8. Penderita stroke
9. Penyandang hipertensi kronik
10.Defisiensi nutrisi dan vitamin B12, folic acid
11. Alkoholik
Bagaimana mengenali gejala demensia Alzheimer ?
Ada 10 gejala umum yang biasanya dapat dikenali :
1. Penurunan daya ingat (memori) yang mengganggu pekerjaan/kegiatan harian Mudah lupa, yang timbul sekali-sekali saja dan jarang mungkin masih bisa dianggap wajar. Tetapi, bila kejadiannya sering dan dikenali orang lain, perlu diwaspadai sebagai gejala Alzheimer.
2. Kesulitan melakukan tugas yang bisa dikerjakan
Sebagai contoh sederhana misalnya terjadi kesulitan cara berpakaian, kesulitan cara menyiapkan dan membuat makanan.
3. Gangguan berbicara dan berbahasa
Kesulitan menyebut kata dan menyusun kalimat yang bermakna, bahkan sampai lupa akan kata-kata sederhana.
4. Gangguan mengenal waktu, orang, dan tempat
Penyandang demensia Alzheimer sulit atau tidak mampu mengingat waktu, orang yang dahulu pernah ia kenal, sering tersesat jalan meskipun jalan/arah yang dekat area tempat tinggalnya.
5. Sulit mengambil keputusan yang tepat atau sulit membuat rangkuman atau analisis suatu masalah
Misalnya cara memutuskan cara berpakaian, membuat analisis serta emmbuat kesimpulan suatu masalah yang berkembang dalam forum rapat atau seminar.
6. Sulit berpikir abstrak
Kehilangan kemampuan berhitung dan imajinasi, sulit menyusun kegiatan administrasi manajemen.
7. Salah meletakkan barang dan sering lupa meletakkan barang
8. Meletakkan suatu barang pada tempat yang bukan semestinya.
9. Perubahan mood (perasaan) dan perilaku
Penyandang demensia Alzheimer cepat mengalami perubahan perasaan (emosi), mudah marah, curiga, agitasi bahkan bisa depresi tanpa alasan yang jelas.
10. Perubahan kepribadian
Perubahan ini sesuai keadaan umur, dapat berupa paranoid, kecemasan yang tinggi hingga depresi atau seperti psikotik
11. Kehilangan inisiatif
Penyandang berubah menjadi sangat pasif, membutuhkan dorongan untuk terlibat dalam suatu kegiatan.
Upaya apa untuk mencegah atau menunda kemungkinan terkena kepikunan Alzheimer ?
1. Memberi nutrisi sehat untuk otak
Otak seperti halnya organ tubuh lainnya juga akan mengalami penyusutan berat dan volume. Penyusutan tersebut akibat kehilangan/kematian sel-sel saraf, yang menurut penelitian penyusutan tersebut mencapai 15 % pada orang usia mulai 20 – 90 tahun. Untuk memperlambat penyusutan tersebut, otak perlu diberi nutrisi yang sehat dan baik agar keberadaan fisik otak dan fungsinya tetap terjamin. Nutrisi otak secara garis besar dapat dikelompokkan dua hal yaitu nutrisi fisik dan nutrisi non fisik. Nutrisi fisik dapat disebutkan antara lain protein, glukosa (sumber kalori), lemak omega-3, mineral elektrolit, golongan mineral sebagai co-enzym atau cofaktor (Zinc, Fe) metabolisme penghasil energi dari neurotrasmitter. Selain itu diperlukan juga antioksidan, vitamin golongan vitamin B, C, E, dan asam folat. Zat-zat lemak tertentu seperti fosfolipid, fosfatidilserin, dan fosfatidilkolin sangat penting untuk memperbaiki membran sel saraf.
Sedangkan nutrisi non fisik adalah berupa informasi atau stimulus. Untuk membangun kekuatan memori (daya ingat) otak yang salah satu fungsinya mengelola ingatan, memerlukan stimulus-informasi yang bervariasi dan terus menerus sejak manusia bayi tidak tahu apa-apa sampai menjadi pikun. Dengan memberdayakan fungsi panca indera, stimulasi informasi itu diterima kemudian diproses dalam bagian otak tertentu sebagai persepsi-interpretasi memori yang pada gilirannya berfungsi untuk membantu kecerdasan berpikir. Agar tidak cepat pikun, maka gunakan selalu otak kita untuk menerima dan mengolah berbagai stimulasi. Informasi yang positif melalui olahraga, membaca, menulis, berkomunikasi (silaturrahmi), bercerita, catur, berdiskusi, memainkan musik, menari, dan brain exercise (gerak latih otak).
2. Hindari terpapar bahan atau zat-zat toksik/racun.
Terpaparnya zat-zat toksik ini dapat terjadi secara sengaja ataupun tidak sengaja. Sengaja artinya oang sengaja memakainya, meminumnya, atau memakannya. Sedangkan tidak sengaja berarti kita tidak mungkin terhindar dari lingkungan hidup misalnya menghisap udara yang tercemar zat-zat toksik seperti timah hitam, gas karbon oksida, radiasi, dll. Logam berat seperti merkuri, timah, alumunium bisa juga tercemar melalui air. Penggunaan atau terpapar dengan bahan-bahan yang mengandung logam berat seperti merkuri, alumunium, timah, radiasi, dan kemoterapi yang tidak mengikuti prosedur baku juga berbahaya. Pemakaian alkohol secara kronis, obat-obatan narkotika, dan psikotropika jangka lama harus diwaspadai.
3. Berkonsultasi pemeriksaan kesehatan kepada dokter
yaitu bertujuan untuk mengetahui status kesehatan dari waktu ke waktu, mengendalikan/mengobati adanya faktor-faktor risiko seperti hipertensi, diabetes melitus, hiperlipidemia, stroke, depresi, dan kecemasan berkepanjangan. Selain itu juga untuk mengetahui apakah ada penyakit yang baru muncul dan mempunyai kaitan dengan gangguan fungsi otak, misalnya tumor otak, infeksi, gangguan hormonal tiroid, penurunan hormon estrogen, dll. Berkonsultasi dengan dokter sangat penting untuk melakukan evaluasi/penilaian status memori periodik atau atas indikasi.
Sumber :
Oleh : dr. Samino
Ketua Asosiasi Alzheimer Indonesia
http://www.qvida.co.id/index.php/news/detil/209




dr. samino Yth.
Saya mahasiswa S3 Gizi IPB. Topik penelitian saya tentang Alzheimer’s Desease (AD), apakah Dokter punya referensi terkait dengan prevalensi dan insiden AD di Indonesia? dan apakah Dokter bisa menjelaskan mekanisme keterkaitan AD dengan kegemukan?
Terima kasih sebelumnya atas perhatiannya.
Salam hormat,
Atik
Sdri. Atik,
maafkan terlambat merespons karena kesibukan. kami hanya menyadur artikel ini dan kami bukan dr. Samino. terima kasih