Arsip Kategori: Ilustrasi Injil

Keselamatan Seisi Rumah

Semasa Perang Korea, ada seorang muda yang bernama Billy Kim. Ia kuliah di Amerika dan ketika ia sedang sendirian di kampus ia merasa sangat rindu akan rumahnya. Suatu hari ada orang Amerika yang memberitakan Injil kepadanya. Lalu ia bertanya, jika ia menerima Kristus, apakah Tuhan dapat menghapus rasa rindunya? Orang itu berkata bahwa Tuhan akan memberikan hayat, damai sejahtera, sukacita dan tujuan dalam hidupnya. Akhirnya ia pun menerima Tuhan dan mereka berdua berlutut untuk berdoa. Pada hari itu ia diselamatkan oleh Tuhan. Ketika ia pulang ke Korea ia langsung menginjili ibunya, kakak laki-lakinya dan sembilan anaknya, kemudian adik laki-laki dan istri serta lima anaknya, adik perempuan dan ketiga anaknya dan kepada adik laki-lakinya dan ketiga anaknya, sehingga seluruh keluarganya menjadi orang Kristen. Demikianlah, keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita sebenarnya adalah bagi seisi rumah kita. Kita harus menjadi orang yang membukakan pintu keselamatan bagi seisi rumah kita, sehingga seluruh anggota keluarga kita dapat memperoleh keselamatan Tuhan.

Kata Yesus kepadanya: Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham (Luk. 19:9)

Bukan Perbaikan Lahiriah, tetapi Perubahan Batiniah

Dalam sebuah majalah yang sangat laris pernah memuat satu cerita yang demikian. Di suatu kota besar, persatuan tukang cukur mengadakan satu rapat tahuan di suatu hotel besar. Dalam rapat itu ada orang yang mengusulkan, untuk melakukan satu propaganda yang lucu. Mereka pergi ke lorong yang kumuh, menemukan satu pemabuk yang sdang rebah di pinggir jalan, lalu membawanya kembali ke hotel, lalu dimandikan, dicukur rambutnya, diberi pakaian yang rapi.
Mulai dari awal, setiap tahapan difoto, supaya orang lain dapat melihat dia mulai dari satu orang yang sangat dekil, kotor, menakutkan orang, dan kasihan, satu tahap demi satu tahap berubah menjadi gentlemen yang gagah dan anggun, melalui ini untuk menyatakan keunggulan tekhnik cukur mereka. Direktur hotel tertaik dengan rencana ini, dengan penuh simpati akan mengudang pemabuk yang melewati dadanan yang baik menjadi pegawai dalam hotelnya. Pemabuk itu berjanji besul pukul delapanpagi mulai masuk kerja. Siapa tahu besok pagi pukul delapan tidak kelihatan dia tiba, sampai malam waktu makan malam, tetap tidak kelihatan batang hidungnya. Direktur hotel itu penasaran, ingin tahu apa yang terjadi, menurut informasi yang dia terima, pergi ke tempat asalnya para tukang rambut cukur itu menemukannya, ternyata pemabuk itu sedang terkulai tidur di pinggir selokan, bajunya menjadi kacau balau lagi. Direktur itu menggelengkan kepala mengeluh, “Meskipun tukang cukur rambut bisa mengubah penampilan lahiriah pemabuk itu menjadi bersih dan tampan, tetapi kalau mereka tidak bisa membersihkan batinnya, mengubah batinnya, mereka tidak bisa berbuat sesuatu untuknya.
Penuntutan perbaikan moral oleh rekayasa manusia, semuanya adalah perbaikan lahiriah, semuanya sama seperti pekerjaan tukang cukur yang menghiasi wajah manusia, tidak bisa mengubah batin manusia. Allah tidak menyuruh orang memperbaiki luaran manusia, tetapi memberi manusia hayat yang baru, mengubah batin manusia.
Pada suatu hari Ev. John Sung di Beijing memberitakan “Kristus Juruselamat seluruh dunia”. Selesai memberitakan khotbah itu, seorang dokter Tiongkok bertanya kepadanya, “Kristus lahir tidak lebih dari dua ribu tahun yagn lalu, sebelumnya kita sudah memiliki mahaguru Kongfusius; bagaimana bisa mengatakan hanya Kristuslah Juruselamat seluruh dunia? Kita sudah merasa cukup dengan pengajaran Kongfusius dan orang bijak yang lainnya.” Ev. Sung berkata, “Anda berkata Kristus lahir pada dua ribu tahun yang lalu. Tetapi ketahuilah, sebelum Dia menjadi manusia, Dia sudah ada.” Tuhan Yesus berkata, ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada.’ Saya tidak menolak Kongfusius dan pengajarannya, tetapi ada satu kebaikan apa yang Anda dapatkan karena Kongfusius atau karena pengajarannya?” Dokter itu menjawab, “Perkataan Kongfusius tidak seperti sepotong daging, setelah memakannya akan merasa kenyang, memerlukan jangka waktu yang panjang baru bisa kelihatan hasilnya.” Ev. Sun berkata, “Sepotong daging tentunya tidak bisa begitu dimakan langsung bisa dicerna menjadi darah dan daging kita; namun asal penciuman kita normal, ketika makan bisa segera merasakan cita rasanya. Suatu pengajaran yang baik sama seperti kalung berlian, kalau dikenakan di leher kelihatannya indah, tetapi tidak bisa menyembuhkan penyakit; namun firman Kristus bukan hanya suatu pengajaran saja, juga roh dan hayat (Lihat. Yoh. 6:63), siapa yang menerima-Nya, akan dari Tuhan mendapatkan hayat yang baru.” Dokter itu berkata, “Hayat baru ini, perubahan baru ini, tidak bisa datang dari luar, hanya bisa bersandarkan usaha kita sendiri.” Ev. Sung berkata, Kita harus menerima hayat yang baru, tetapi kita tidak bisa dengan kekuatan kita sendiri untuk mendapatkan hayat baru. Sebatang pohon yang buahnya pahit, tidak bisa bersandarkan usahanya sendiri mengubah buahnya menjadi manis; tetapi bisa dengan cara okulasi mendapatkan buah yang manis. Demikian juga, orang dosa bisa melalui menerima Tuhan Yesus, mendapatkan hayat yang baru, menjadi manusia baru; inilah beroleh selamat.”

(sumber: literatur Yasperin)

Menciptakan Cuaca Batini yang Cerah

Lord Oliver Lodgs, fisikawan ternama di Inggris, pada akhir abad sembilan belas meneliti halilintar sehingga menjadi sohor. Dia berkata, “Saya sungguh tidak mengerti, mengapa perlu sabar terhadap cuaca yang jelek; kalau kita tidak mau menyerah, cepat atau lambat kita bisa menguasainya.”
Pada suatu hari, menjelang senja, Mr. Paul dengan santai berjalan pulang, sepanjang jalan dia terus merenungkan perkataan Oliver Lodgs. Pada saat itu ia melihat sekelompok orang Kristen sedang berhimpun memberitakan Injil. Seorang gadis memakai suara emasnya dari lubuk hatinya menyanyikan satu kidung, banyak orang yang lewat tertarik lalu berhenti mendengarkan nyanyiannya. Kidung ini seperti berikut, “Cahaya mulia terangi jiwaku, makin mulia terang. Kegelapan terusir dariku, karena Tuhan terang. Cahaya mulia! Cahaya bahagia! Bawa damai, riang gembira! Seri wajah Yesus padaku, menerangiku selalu!…. ” Setelah Mr. Paul selesai mendengarkan kidung itu, ia meneruskan perjalan pulangnya. Tetapi isi kidung itu terus mengiang di telinganya, sehingga dia sangat merasakan, keadaan hati gadis ini lebih tinggi daripada keadaan hati fisikawan itu, suara nyanyiannya mengalirkan iman yang ada di dalamnya, tak peduli cuaca di luar betapa jeleknya, dia bisa menciptakan cuaca cerah di dalam hatinya, menguasai perubahan yang ada di luar. Meskipun di luar awan gelap menutupi langit, kita tidak bisa dengan cara manusia untuk mengubahnya. Tetapi Tuhan di dalam kita adalah terang kita, bisa menciptakan cuaca yang cerah di dalam kita, supaya kita bisa menyanyikan kidung sukacita.
Semua orang yang percaya Tuhan memiliki Kristus di dalam hatinya, yang bisa bersandar Dia menciptakan cuaca cerah batini. Paulus bisa bersaksi untuk hal ini, dia adalah teladan kita. Dia berkata, “…. Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaandan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang meruapakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan kelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan. Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp. 4:11-13). Dia dalam keadaan apa pun bisa mencukupkan diri, bisa legowo, meskipun di luar ada awam gelap menyelimuti angkasa, dia bisa bersandarkan Kristus yang memperkuat batiniahnya, menciptakan cuaca cerah batini. Meskipun mengalami banyak masalah, penderitaan, penganiayaan, penghinaan, tetap bisa bersukacita di dalam Tuhan. Suasana di luar tidak bisa merampas damai sejatera, sukacita, dan kepuasan yang ada di dalamnya. Alkitab mengatakan, “Allah bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyaang oleh geloranya.” (Mzm. 46:2-4).
Allah adalah kekuatan yang menenangkan batin kita, adalah sumber damai sejahtera, meskipun langit dan bumi gocang, juga tidak akan memperaruhinya. Hadson Taylor, pendiri China Inland Missionary, ketika di Melbourne tinggal di rumah Mr. H.O. Macartney selama dua minggu. Mr. Mac melihat Hadson selalu begitu tenang, lalu bertanya kepadanya. Hadson menjawab, “Macartney yang terkasih, damai sejahtera batini yang ada di dalam saya, bukan satu hak istimewa yang tinggi, tetapi suatu keperluan. Kalau bukan damai sejahtera yang Allah berikan kepada kita melindungi hati kita, saya pasti tidak bisa menyelesaikan pekerjaan saya.”

(sumber: literatur Yasperin)

Kebebasan yang Sejati

Presiden Amerika, Lincon, karena membebaskan budak orang kulit hitam, memicu perang Selatan Utara, akhirnya mendapatkan kemenangan, menghapus system perbudakan, budak kulit hitam mendapatkan kebebasan. Di Inggris juga ada tokoh yang seumur hidupnya menentang perkara jual beli budak, akhirnya pada tahun 1807 di Inggris juga menyetujui peraturan membebaskan budak. Pada tahun 1833 menyetujui undang-undang membebaskan delapan ratus ribu budak di Hindia Barat yang menjadi jajahan Inggris, system perbudakan di India juga telah dihapus pada tahun 1838.
Kebebasan adalah yang dihargai dan diinginkan oleh seluruh umat manusia. Tetapi orang bisa berjuang mendapatkan kebebasan dalam lingkungan, tetapi tidak bisa mendapatkan kebebasan dalam batin. Meskipun manusia bisa tidak menjadi budak orang lain, tetapi tidak bisa tidak menjadi budak dosa. Alkitab mengatakan, “Setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” (Injil Yohanes 8:34). Setiap orang telah berbuat dosa, sebab itu setiap orang telah menjadi budak dosa.
Di London ada satu pemuda yang suka minum minuman keras, meskipun namanya sudah hancur, hartanya sudah habis, tetapi tidak bisa menyelamatkan diri dari minuman keras. Pada suatu hari, ia mendekati meja pelayan bar, meminta segelas bir. Selesai minum dengan kepalan tangannya memecahkan kaca meja pelayan bar, lalu menyerahkan diri kepada polisi, mohon ditahan, melalui ini membantu dia menghentikan minum bir. Kepala polisi simpati kepada kesulitannya, menjatuhkan hukuman selama satu bulan. Setelah masa tahanannya habis, melewati bar, menemukan ketagihan untuk minum bir masih kuat, dia merasa sangat menderita dan putus asa. Pada suatu kali, ia mendengarkan Injil, sangat terharu, menangis, mengucurkan air mata, menceburkan diri ke dalam pelukan Tuhan. Sejak itu kekuatan tarikan bir lepas sama sekali, hatinya penuh dengan sukacita.
Dosa tidak saja adalah perbuatan di luar orang, dosa juga kuasa yang tinggal di dalam orang, dia mempunyai kekuatan untuk mengusai orang, supaya orang tidak bisa tidak berbuat dosa. Tetapi Tuhan Yesus berkata, “Jadi, apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” (Injil Yohanes 8:36). Anak itu adalah Tuhan Yesus, Dia bangkit dari kematian, memberi orang hayat yang menang untuk mengalahkan hayat dosa, membebaskanorang dari dosa, tidak terkekang oleh dosa lagi, tidak menjadi budak dosa lagi, ini barulah kebebasan yang sejati.

(sumber: literatur Yasperin)

“Jangan Kubur Suamiku!”

Pernah ada seorang wanita ditinggal mati suaminya. Karena begitu sedih akibat kehilangan suaminya itu, ia menjadi sakit ingatan dan menolak penguburan suaminya. Hari demi hari, sampai dua minggu lamanya, jenazah suaminya tetap di rumahnya. Ia berkata, “Ia tidak mati. Setiap hari aku bercakap-cakap dengannya.” Wanita yang kasihan ini tidak rela kalau jenazah suaminya dikuburkan, karena ia tidak percaya kalau suaminya sudah mati.

Kapankah kita rela menguburkan ”orang” yang kita kasihi? Tentu hanya kalau kita yakin benar bahwa ia sudah meninggal. Kalau masih ada sedikit saja harapan untuk hidup, tentu kita tidak akan menguburkannya.

Jadi, kapankah kita benar-benar rela menerima fakta penguburan atas manusia lama kita? Hanya taktala kita telah nampak fakta bahwa kita telah turut disalibkan dan mati bersama Kristus. Kalau Anda benar-benar menyadari bahwa manusia lama Anda telah mati, Anda tentu tidak akan keberatan untuk dikuburkan.

(sumber: literatur Yasperin)

Yang Pertama Harus Dilakukan Setelah Resmi Menikah

Setelah seseorang menikah, perkara pertama yang harus ia pelajari ialah harus menutup mata, tidak melihat kelemahan pihak pasangannya. Ingatlah, sepasang manusia yang telah menjadi suami istri akan tinggal bersama hari demi hari, tahun demi tahun, tanpa cuti, dan senantiasa tak berpisah. Anda akan mempunyai cukup banyak waktu untuk menemukan kelemahan dan kesulitan pihak pasangan Anda. Sebab itu, Anda harus belajar di hadapan Allah, yakni setelah Anda menikah, Anda harus menutup mata Anda.

Tujuan pernikahan bukan untuk mencari kelemahan atau kesulitan pihak pasangan. Dia adalah istri Anda, bukan murid Anda; dia adalah suami Anda, bukan anak didik Anda. Karena itu, tidak perlu Anda mencari kesulitannya untuk kemudian membantunya. Dan jangan sekali-kali Anda mencari kelemahannya lalu berusaha mengoreksinya. Kalau Anda menaruh perhatian atas perkara ini, niscaya keluarga Anda akan terbangun di atas dasar yang kokoh.

(sumber: literatur Yasperin)

Potongan Jalan yang Terakhir

Mungkin Anda telah jatuh, sekarang bangunlah. Saudara saudari, semoga kasih kita yang semula, sekarang diaduk-aduk, sehingga kasih itu dikobarkan lagi. Paulus berkata kepada Timotius, “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.” “Mengobarkan” dalam bahasa aslinya berarti diaduk-aduk (khususnya terhadap tumpukan bara api, supaya lebih membara).

Penulis Surat Ibrani melihat bahwa di antara saudara-saudara Ibrani “ada yang kelihatannya ketinggalan”, hati yang semula untuk Tuhan kelihatannya sudah mundur, sebab itu ia menganjuri mereka “kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah.” Tuan Muller berkata, “Kunci rahasia seseorang bila ingin mendapatkan kesuksesan yang besar di hadapan Allah, tergantung pada tetap bertahan, bahkan sampai pada setengah jam yang terakhir.”

Saudara saudari pernahkah Anda mengalahkan banyak pencobaan? Meskipun gelap sungguh terlalu pekat, tetapi tidak akan lama lagi. Yesaya 21:12 mengatakan, “Pengawal itu berkata: Pagi akan datang, tetapi malam juga . . . .” Meskipun sekarang berada pada malam hari, tetapi pagi segera datang. Saya harap, meskipun Anda berada dalam keadaan yang demikian, tetaplah bertahan bahkan sampai pada setengah jam yang terakhir. Mata kita jangan hanya menatap pada malam hari, jangan hanya melihat pada kesulitan. Hari ini kalau Anda tidak berjalan, itu sangatlah rugi; hari ini kalau Anda terlalu kendur atau santai itu sangat disayangkan, karena kita segera akan tiba di seberang.

(sumber: literatur Yasperin)

Belajarlah dari Domba yang Bodoh!

Ada sepasang suami isteri, di dalam Tuhan boleh dikatakan lumayan, mereka cukup bergairah bekerja untuk Tuhan. Tetapi tidak lama kemudian, anak kesayangan mereka meninggal dunia. Kemudian, dengan penuh amarah mereka berkata, “Mulai sekarang kami berdua tidak mau melayani Allah lagi. Kami telah dengan setia melayaniNya, Dia bukan saja tidak memberkati, malah membuat anak kami mati.” Demikianlah mereka kemudian menempuh penghidupan sehari-hari dengan sesukanya sendiri, tidak lagi seperti dulu bergairah melayani, tidak mau menuntut kemajuan rohani. Demikianlah waktu berlalu sekitar 8 sampai 9 tahun.

Pada suatu hari, si suami sedang berjalan di suatu belantara, terlihatlah olehnya seorang penggembala domba yang akan menyeberangkan kawanan domba melewati sebuah anak sungai. Pada masa itu, umumnya di anak sungai di desa-desa tidak ada jembatan yang baik, hanya ada papan-papan yang melintang yang menghubungkan kedua tepian. Bagi manusia, jembatan “darurat” itu masih boleh, tetapi bagi hewan, dalam hal ini kawanan domba, sangatlah sulit; karena domba adalah hewan yang penakut lagi bodoh. Sebab itu meskipun gembala itu mencambuk dan mendorongnya, mereka tetap tidak berani menyeberang. Gembala itu kehabisan akal, akhirnya diangkatnya seekor anak domba kecil yang sangat disayangi oleh induk domba, digendongnya domba kecil itu dan ia menyeberangi jembatan itu. Demi dilihat induk domba itu bahwa anaknya yang disayangi dibawa ke seberang, segera ia memberanikan diri menempuh bahaya untuk mengikutinya, kemudian kawanan domba yang lainpun ikut menyeberang.

Begitu melihat kejadian ini, si suami segera berkata, “Cukuplah.” Sejak hari itu dia kembali dibangunkan. Di kemudian hari ia bersaksi, “Karena Allah tidak menghendaki aku tertinggal di seberang sungai ini, maka Dia telah membawa anakku menyeberang lebih dulu. Domba yang begitu bodoh saja mengetahui dan akhimya ikut menyeberang, mengapa aku masih saja berlambat-lambatan dan tidak mau segera menyeberang?”

(sumber: literatur Yasperin)

JUST AS I AM

Ada satu syair nyanyian yang mengatakan, “Adaku ini tak layak…” (Kid. 724). Nyanyian ini ditulis oleh seorang saudari yang berusia dua puluh tahun lebih. Sejak kecil saudari itu telah mempunyai perasaan, bahwa dirinya adalah orang berdosa. Orang seperti dia ini bagaimana bisa berjumpa dengan wajah Allah? Dia telah sering memasuki gedung-gedung kebaktian, dan menemui banyak pendeta. Dia bertanya kepada mereka, “Apa yang harus kuperbuat agar beroleh selamat?” Banyak orang memberi tahu dia, “Tunggu hingga Anda berbuat baik, berbuat lebih baik, baru percaya Tuhan Yesus.” Juga ada yang menganjurinya, “Banyak-banyaklah berdoa, membaca Alkitab.” Ada juga orang yang menganjurinya agar banyak berbuat amal, berbuat bajik. Banyak pula orang yang memberitahunya, bahwa ia harus berbuat ini, harus berbuat itu. Setelah lewat tujuh atau delapan tahun kemudian, keadaannya malah lebih jelek daripada keadaan sebelumnya.

Akhirnya ia berjumpa dengan seorang penginjil tua, ia bertanya kepadanya, “Apa yang harus kuperbuat agar aku bisa mendekati Allah dan beroleh selamat?” Orang tua itu menumpangkan kedua tangannya ke atas kedua bahunya serta berkata, “Dengan keadaan inilah engkau datang kepada Allah.” Dengan rasa terkejut dan heran ia mundur serta berkata, “Apakah saya tidak perlu berbuat baik? Apakah aku tak perlu memperbaiki diriku dulu, baru kemudian percaya Tuhan Yesus?” Penginjil tua itu berkata, “Tidak perlu! Dengan keadaan inilah engkau datang kepada Tuhan.” Sejak hari itu ia baru mengerti, ia baru tahu bahwa dengan keadaannya yang sekarang inilah ia boleh datang kepada Tuhan.

Perempuan muda ini memberitahukan keadaan sakitnya kepada dokter yang Allah utus, Yesus Kristus; lalu ia mendapatkan kesembuhan. Setelah itu ia pulang dan menggubah sebuah kidung yang berbunyi, “Adaku ini tak layak, . . . Tuhan kudatang pada-Mu.” Jadi, apakah yang disebut kasih karunia? Kasih karunia ialah sesuai dengan apa adaku, tidak perlu diubah, aku datang kepada Tuhan. Tuhan Yesus menghendaki orang berdosa membawa keadaan asalnya datang kepada Tuhan, bersandar kepada-Nya.

(sumber: literatur Yasperin)

Sekarang Kita Tidak Mengerti

Di Hangchow (China) ada sebuah pabrik tenun sutera. Mereka menenun sutera dengan benang sutera yang beraneka warna. Jika dilihat dari belakang, tenunan itu sangatlah kacau dan tidak jelas apa yang ditenun itu; lebih-lebih bagi orang awam. Tetapi jika kita melihat bagian depannya yang telah selesai ditenun, ternyata sangat indah sekali; di atasnya ada gambar manusia, bunga-bunga, gunung atau sungai. Sewaktu mereka menenun, segalanya tidak jelas, hanya terlihat benang-benang yang warna-warni itu berjalan keluar masuk.

Demikian pula, banyak peristiwa yang kita alami, tanpa kita ketahui maknanya. Gambar apa yang hendak Allah bentuk, tidak kita ketahui. Tetapi setiap helai benang yang Allah pakai untuk mengatur kita itu bermanfaat bagi kita, dan setiap bentuk gambar sesuai dengan pengaturan-Nya. Setiap lingkungan yang diatur Allah bertujuan menciptakan satu karakter yang kudus bagi kita. Setiap peristiwa yang kita alami mengandung nilai-nilai tertentu. Mungkin hari ini sama sekali tidak kita ketahui, tetapi pada suatu hari kelak kita akan jelas. Walau ada perkara tidak terasa indah pada saat ini, tapi setelah lewat sejangka waktu, kita akan mengetahui dengan jelas mengapa Tuhan mengatur demikian, dan apa sebenarnya tujuan Tuhan.

(sumber: literatur Yasperin)